Reader | Writer | Blogger | Trainer

Saturday, 25 February 2017

Sudahkah Kau Temukan Tuhan?


Judul: The Geography of Faith
Penulis: Eric Weiner
Penerbit: Qanita, Bandung
Cetakan: Pertama, September 2016
Tebal: 500 Halaman
ISBN: 9786024020408

Dewasa ini, agama menjadi isu penting yang kerap jadi perbincangan dalam setiap sendi kehidupan. Agama jadi hal transenden untuk dibahas dan didiskusikan di berbagai forum. Bahkan, tak sedikit orang yang memasukkan agama ke ranah politik praktis seperti yang terjadi dewasa ini, sehingga berbagai polemik baru muncul. Dari masalah kriteria pemimpin, hingga larangan memilih pemimpin yang tidak seiman. Semua digulirkan sehingga menimbulkan pro-kontra yang tiada ujung.
Berbicara masalah Tuhan dan keimanan, sebenarnya ada beberapa hal yang sangat urgen untuk dibahas dan ditelaah, khususnya tentang bagaimana mencari dan menemukan keimanan tersebut. Sudah benarkah manusia memilih agama, Tuhan, dan keimanannya selama ini? Apakah selama ini, agama yang mereka anut hanya sebagai simbol, bukan penuntun menuju keimanan yang hakiki? Apakah orang yang selama ini mengaku beriman sudah benar-benar mengamalkan apa yang diperintahkan agama dan Tuhannya?
Lewat buku The Geography of Faith, Eric Weiner mengajak pembaca merenungkan ulang bagaimana sebenarnya keimanan yang dimiliki seseorang. Apakah keimanan yang dimilikinya sudah sesuai dengan apa yang agama perintahkan?
Dalam buku ini, Weiner memaparkan tentang kebingungan dan konflik batinnya perihal keimanan, sehingga ia merasa perlu mencari, membaca, menelaah, bahkan melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat religius seperti Yerusalem, Tibet, Istanbul, dan lainnya. Ketidakpuasannya terhadap berbagai penjelasan tentang agama, Tuhan, dan keimanan membuat ia benar-benar harus mencari keimanan dari berbagai tempat dan tokoh di belahan dunia.
Semua berawal ketika ia mengalami drop. Di rumah sakit tempatnya dirawat, sebuah pertanyaan menggelitik dari seorang perawat membuat ia benar-benar berpikir tentang Tuhan dan iman.
“Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?” demikian tanya sang perawat ketika ia didiagnosis mengalami sebuah penyakit yang berhubungan dengan syaraf. Bukan sudah menemukan Tuhan titik, melainkan Tuhan-mu, seakan-akan ada satu Tuhan di luar sana yang khusus untuk Weiner, menunggunya (hlm. 16).
Selama beberapa waktu, ia mencoba melupakan kejadian tersebut. Namun, ia terus merasa dihantui pertanyaan sang perawat. Kata-kata itu menggali otaknya bagaikan marmot tanah pada awal musim dingin. Siapa, atau apa, Tuhanmu? Ia terlahir sebagai orang Yahudi. Tentu saja itu agama leluhurnya, tetapi tidak otomatis menjadi agamanya. Keduanya memang hal yang sama sekali berbeda.
Ia jujur bahwa selama ini memang meragukan eksistensi Tuhan. Namun, ia juga tidak bisa dibilang ateis. Sebuah pertanyaan yang tak kalah menggelitik juga ia terima dari anaknya yang masih berusia lima tahun, “Ayah, apakah Tuhan bertanggung jawab terhadap kita?”. Lama ia terdiam dan berpikir apa jawaban yang pantas untuk menjawab pertanyaan anaknya yang terlalu teologis untuk anak usia lima tahun. “Tuhan memberikan segala yang kita butuhkan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri.” akhirnya Weiner menemukan jawaban yang membuat anaknya puas (hlm. 25).
Tidak hanya dua pertanyaan menggelitik sang perawat dan anaknya yang membuat Weiner begitu menggebu-gebu melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat. Ada banyak hal yang membuat ia harus benar-benar melakukan sesuatu, terutama untuk menemukan Tuhan dan keyakinan yang selama ini memang belum benar-benar ditemukannya.
Untuk memenuhi rasa hausnya akan Tuhan dan keimanan, ia pernah bergaul dengan para darwis di kamp orang-orang Sufi di Istanbul. Di sana ia banyak membaca karya-karya Rumi yang banyak menjadi “referensi” kaum Sufi. Ia pernah mengajukan pertanyaan, “Apa itu Sufisme?”. Sebuah jawaban diperolehnya bahwa, sufisme adalah sekolah kearifan. Realitas dipersiapkan untuk mendorong manusia meraih kearifan yang lebih besar, seperti kasino di Vegas. Sufi ada di dunia, tetapi bukan dunia itu sendiri (hlm. 47).
Dalam buku 500 halaman ini, selain Sufisme, ada beberapa keyakinan yang coba penulis gali dan jelajahi, seperti Tuhan menurut Buddhisme, Fransiskan, Raelisme, Taoisme, Wicca, Syamanisme, hingga Kabbalah. Semua dibahas dengan pembahasan yang menarik melalui pelbagai riset dan dikemas dengan beragam fakta dan kebijaksanaan yang menarik serta menggelitik. (*)

  *) Dimuat Harian Nasional, 24-25 Desember 2016

Share:

Kiprah Para Tokoh Berpengaruh Sepanjang Sejarah


Judul: 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
Penulis : Michael H. Hart
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: I, Desember 2016 (Edisi Revisi)
Tebal: xxxx + 566 Halaman
ISBN: 9786023852048

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, ada banyak tokoh yang berperan penting dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu seperti politik, sains, teologi, sastra, sejarah, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, yang hingga kini berpengaruh dalam kehidupan manusia. Manusia pada zaman modern bisa menikmati apa yang telah mereka gagas dan temukan. Tak heran jika ada yang menilai mereka sebagai tokoh penting sekaligus berpengaruh yang patut dicatat dan diabadikan, sehingga kelak banyak orang mengetahui sepak terjang mereka.
Sebagai penulis sekaligus peneliti, Michael H. Hart juga berusaha merangkum sejumlah nama tokoh yang tercatat dalam buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Dalam buku ini, Hart mengetengahkan sebanyak seratus orang tokoh berpengaruh sepanjang sejarah yang diurut berdasarkan rangking.
Hart menempatkan Muhammad Saw. (570-632) pada urutan pertama. Alasannya memilih Nabi umat Islam sebagai tokoh teratas dalam daftar paling berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sejumlah pembaca dan dipertanyakan oleh yang lain. Namun, Hart menilai dialah satu-satunya orang dalam sejarah yang sangat berhasil, baik dalam hal keagamaan maupun sekuler.
Selama tiga tahun, Muhammad Saw. hanya berdakwah kepada teman-teman dan rekan dekatnya. Kemudian, sekitar 613, beliau mulai berdakwah di depan publik. Seiring dengan bertambahnya pengikut-pengikut baru, pihak penguasa Makkah mulai menganggapnya sebagai gangguan berbahaya. Pada 622, karena khawatir dengan keselamatannya, beliau mengungsi ke Madinah (sebuah kota yang berjarak sekitar 200 mil di utara Makkah), di mana dia ditawari posisi yang memberinya kekuasaan politik yang cukup besar. Peristiwa ini disebut Hijrah (hlm. 4).
Isaac Newton (1642-1727) menempati posisi kedua sebagai tokoh berpengaruh dalam buku ini. Newton adalah ilmuwan terbesar dan paling berpengaruh yang pernah hidup. Ia dilahirkan di Woolsthorpe, Inggris, pada hari Natal 1642, tahun yang sama Galileo wafat.
Newton selalu enggan menerbitkan hasil penelitiannya. Meskipun dia telah merumuskan sejumlah banyak ide dasarnya di balik sebagian besar karyanya sampai 1669, tetapi kebanyakan teorinya baru dipublikasikan lama setelah itu. Prestasi-prestasi Newton dalam bidang optik saja mungkin sudah membuatnya mendapatkan tempat dalam buku ini. Namun, prestasi-prestasinya itu dipandang kurang penting bila dibandingkan dengan yang dicapainya dalam bidang matematika murni dan mekanika. Kontribusi besarnya dalam bidang matematika adalah penemuan kalkulus integral, yang mungkin telah ditemukannya ketika berusia 23 atau 24 tahun (hlm 14).
Sementara itu, Yesus Kristus (+ 6 SM-+30 SM) berada di rangking ketiga di antara seratus tokoh. Pengaruh Yesus pada sejarah manusia begitu jelas dan besar, sehingga hanya sedikit yang akan mempertanyakan posisinya yang mendekati puncak daftar. Justru, pertanyaan yang lebih mungkin timbul adalah mengapa Yesus—yang menjadi inspirasi bagi agama paling berpengaruh dalam sejarah—tidak ditempatkan di urutan pertama.
Hart menjelaskan, tidak dimungkiri lagi bahwa sejalan dengan berjalannya waktu, kekristenan memiliki pengikut yang jauh lebih banyak daripada agama-agama lainnya. Meski begitu, bukan pengaruh relatif dari agama tertentu yang dipertimbangkan dalam buku ini, melainkan pengaruh relatif dari tokoh tertentu. Tidak seperti Islam, agama Nasrani tidak didirikan oleh satu orang, tetapi oleh dua orang—Yesus dan Santo Paulus—dan pujian atas perkembangan agama ini haruslah dibagi rata di antara kedua tokoh tersebut (hlm. 20).
Buku yang Menuai Kontroversi
Buku fenomenal setebal 566 halaman dan telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa ini sempat menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Karena itu, penulis berusaha terbuka menerima kritik dan saran dari beberapa pihak, sehingga dalam edisi kedua (revisi) ini, pembaca akan menemukan perubahan posisi rangking, karena menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang ada.
Bahkan, penulis menambahkan tiga nama baru (Gorbachev, Rutherford, dan Ford) sekaligus menghapus tiga nama dari kelompok yang tercantum dalam edisi pertama. Mereka yang dihapus adalah Niels Bohr, Pablo Picasso, dan Antonie Henri Becquerel. Tapi, kata Hart, semua itu tidak mengimplikasikan bahwa ia menganggap mereka “tidak penting”. Sebaliknya, ketiganya—seperti nama-nama lainnya yang ditulis dalam daftar layak sebut—adalah orang-orang yang berbakat dan berpengaruh, yang telah membantu membangun dunia yang mengagumkan ini. (*)

*) Dimuat Lampung Post, Jumat, 24 Februari 2017


Share:

Monday, 14 November 2016

Cinta, Toleransi, dan Perbedaan Keyakinan


Judul: Jogja Jelang Senja
Penulis: Desi Puspitasari
Penerbit: Grasindo, Jakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: 204 Halaman
ISBN: 9786023754830

Pernikahan adalah peristiwa sakral dalam kehidupan manusia. Karena itu, pernikahan harus dilaksanakan atas dasar cinta, keikhlasan, dan tidak ada unsur paksaan di antara kedua belah pihak. Namun, bagaimana jika jalinan cinta sepasang kekasih terbentur masalah agama? Akankah kedua anak manusia itu bisa melanjutkan kisah kasihnya ke jenjang pernikahan?
Kinasih tak pernah menduga sebelumnya bahwa kisah cinta yang dibangunnya bersama Aris akan terbentur masalah klise yang kerap terjadi dalam kehidupan manusia. Kinasih tak pernah membayangkan bagaimana jika orangtuanya yang dikenal sebagai seorang kaum, pemuka agama di kampungnya, mengetahui bahwa ia menjalin cinta bersama laki-laki yang berbeda keyakinan.
Sementara, ia juga tidak ingin memaksa kekasihnya pindah agama hanya karena cinta. Hanya agar mereka direstui oleh orangtua untuk menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, sebagaimana impian semua orang. Di satu sisi, Kinasih juga tidak ingin mempermalukan ayahnya di depan masyarakat jika ia benar-benar menikah dengan laki-laki yang keyakinannya berbeda dengan keyakinan keluarganya.
Sebenarnya, Aris sudah menyatakan kesanggupannya untuk pindah agama jika Kinasih memang menghendakinya. Aris siap menanggung risiko apa pun, karena ia tidak ingin disebut lelaki pengecut karena mempermainkan seorang perempuan. Namun, justru Kinasih yang tidak mau jika Aris pindah keyakinan hanya karena cinta.
 “Beragama itu tidak seperti mengenakan sepatu, Mas. Mas kenakan sepasang untuk sekian waktu. Bila sudah usang atau memiliki yang baru, Mas tinggalkan yang lama.” ucap Kinasih. Walau bagaimanapun, Kinasih masih menghargai keyakinan yang dianut lelaki yang saat ini sedang sibuk dengan tugasnya sebagai jurnalis sebuah surat kabar di Yogyakarta. Ia tidak ingin menjadi perempuan (hlm. 3).
Jogja Jelang Senja karya Desi Puspitasari ini bertutur tentang cinta sepasang manusia yang berbeda keyakinan. Aris seorang Kristiani, dan Kinasih seorang Muslim. Dengan bahasa lugas dan diksi yang menarik, Desi begitu mahir memainkan perasaan pembaca lewat kisah kasih Aris-Kinasih yang begitu menyentuh hati.
Sebenarnya, kisah cinta semacam ini banyak digarap oleh pengarang Indonesia, namun Desi berhasil menyajikannya dengan rasa yang berbeda. Latar kota Yogyakarta yang eksotis semakin menambah suasana romantisme kisah cinta yang tidak biasa ini.
Dalam novel ini, secara halus Desi menyusupkan pesan-pesan tentang makna sebuah toleransi dalam beragama. Bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk saling mencela, menghina, bahkan mengkafirkan penganut agama lain. Desi ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama ratmatal lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam), dan Kristen juga agama yang membawa perdamaian dan cinta kasih.
“Ajaran Kristus mengajarkan kedamaian dan cinta kasih di muka bumi. Sementara keadaan kita seolah menunjukkan bahwa karena dua agama yang berbeda masa depan menjadi suram dan tak lagi berisi kebahagiaan dan cinta kasih.” (hlm. 190).
Sikap toleransi dalam novel 204 halaman karya pengarang yang telah melahirkan beberapa novel yang sebagian telah diangkat ke layar FTV dan film layar lebar ini tidak hanya ditunjukkan lewat tokoh Bapak Kinasih ketika menerima Aris bertamu, tetapi juga lewat keluarga Aris ketika ia mengajak Kinasih makan malam di rumahnya.
Bila dibandingkan dengan novel religi Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku, yang pada 2010 silam telah diangkat menjadi FTV, Jogja Jelang Senja ini bisa dibilang menjadi novel religi kedua Desi yang digarap dengan lebih matang. Penulis berhasil mengetengahkan kisah religi yang tidak hanya melulu berkisah tentang dunia hitam-putih atau surga-neraka, tetapi juga mengajak pembaca merenungi makna sebuah toleransi dalam beragama. (*)

Share:

Sunday, 16 October 2016

Secangkir Inspirasi dari Perempuan Mandiri


Judul: Perjalanan, Cinta, dan Makna Kehidupan
Penulis: Nazura Gulfira
Penerbit: Metagraf, Solo
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: 216 Halaman

Banyak orang mengetahui bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Bahwa apa yang dirasakan dan dialami seseorang, adalah pembelajaran berharga dalam hidup. Entah itu pengalaman yang didapat ketika belajar, perjalanan, cinta, atau dalam persahabatan. Semua akan membekas dan akan menjadi teman sekaligus guru berharga untuk dijadikan pembelajaran.
Lewat buku Perjalanan, Cinta, dan Makna Kehidupan, Nazura Gulfira menawarkan gagasan serta berbagai pandangan tentang bagaimana memaknai hidup yang begitu kompleks. Ada orang yang begitu bahagia menjalani hidup, tetapi sebaliknya, banyak yang mengeluh tentang kondisi kehidupan yang dijalaninya. Padahal, kebahagiaan itu ada pada diri orang masing-masing. Karena kebahagiaan akan hadir saat manusia benar-benar bisa bersikap bijak memandang pernik kehidupan.
Nazura mengaku bahwa selama ini ia sering kali mendapat berbagai pertanyaan dari orang sekitar, terutama perihal apa yang dijalaninya. Seperti saat ia memutuskan untuk kuliah ke luar negeri, tak sedikit orang di sekitarnya yang berpendapat bahwa belajar di luar negeri menawarkan berbagai kebahagiaan dan kesenangan. Dengan belajar di luar negeri, seseorang akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang besar.
Padahal, tujuan Nazura menempuh studi di luar negeri demi mengepakkan sayap pengalamannya. Ia ingin mendapatkan pandangan lain tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan, terutama ketika ia menjalani kehidupan di lingkungan yang baru (hlm. 13).
Masalah lain yang penulis hadapi ketika ia mempunyai rencana untuk meneruskan studinya ke jenjang doktoral. Sebagaimana lazim diketahui di masyarakat Indonesia bahwa, perempuan yang masih lajang di usia yang sudah matang, sering kali mendapat pandangan miring dari kerabat dan orang-orang sekitar. Apalagi seorang perempuan yang sudah memiliki aneka gelar di belakang namanya. Dari S1, S2, hingga S3. Banyak orang beranggapan bahwa perempuan itu akan susah mendapatkan jodoh, karena umumnya laki-laki “takut” yang akan melamar perempuan yang strata pendidikannya jauh di atasnya.
Kegamangan itu juga pernah hadir dalam diri Nazura. Ia benar-benar galau dan gamang menghadapi permasalahan tersebut. Di satu sisi ia ingin segera memiliki pendamping hidup, tetapi di sisi lain ia juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas untuk belajar, terutama di saat semangatnya masih menggebu-gebu. Dengan segala pertimbangan ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang S3. Perihal jodoh, ia benar-benar menyerahkan semua kepada sang Maha Pencipta. Ia yakin bahwa semua akan terjadi atas kehendak-Nya (hlm. 43).
Lalu, bagaimana pandangan Nazura tentang kebahagiaan? Dalam buku 216 halaman ini, Nazura juga memaparkan rahasia bagaimana ia bisa menikmati kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ada banyak hal sederhana yang bisa membuat ia bahagia. Tapi, nyatanya hal-hal sederhana tersebut masih sering ia sepelekan dan sering ditunda-tunda untuk dilaksanakan karena dua alasan yang dihadapinya; rutinitas dan kesibukan.
Namun, ia berusaha untuk tetap melakukan berbagai hal positif dalam kesehariannya. Di antara aktivitas yang membuatnya senang dan bahagia menjalani hidup adalah menulis. Ia akui, dalam menulis ia masih sering bergantung pada mood, karena itu ia selalu berusaha untuk menyetel mood positif dalam menulis.
Hal lain yang membuatnya bahagia adalah piknik atau melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang ia suka, baik ke tempat-tempat wisata, atau bahkan ke toko buku. Karena sebagai perempuan pembelajar, ia tidak pernah lepas dari benda bernama buku. Meskipun sekarang sudah bisa membaca buku lewat gadget, tetapi Azura masih lebih nyaman membaca buku cetak (hlm. 67).
Buku ini menarik dibaca bukan saja karena ditulis berdasarkan pengalaman empiris penulis selama tinggal di luar negeri, tapi karena lewat buku ini, Nazura Gulfira menawarkan daya pandang baru bagi perempuan dalam menjalani hidupnya, untuk mencoba berpikir jernih dan tetap waras dalam dekapan kebahagiaan. (*)
*) Diresensi Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya
**) Koran Sindo (16/10): http://koran-sindo.com/news.php?r=0&n=5&date=2016-10-16

Share:

Sunday, 9 October 2016

Menjadi Pendidik Berkarakter dan Berkualitas


Judul: Sekolah Cinta
Penulis: Edi Sutarto
Penerbit: Penerbit Emir, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 236 Halaman

Pendidikan adalah bekal masa depan yang harus ditanamkan pada diri generasi muda. Tanpa pendidikan yang memadai generasi muda akan kehilangan arah, terombang-ambing oleh arus globalisasi yang siap mengadang. Dengan pendidikan, generasi muda akan menjadi tonggak kepemimpinan di masa yang akan datang.
Karena itu, pendidikan yang ditanamkan di lembaga sekolah haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan yang benar dan metode yang tepat. Diperlukan sosok guru atau pendidik yang penuh dedikasi untuk mendidik siswa dengan berbagai macam karakter. Ada yang penurut, nakal, pembangkang, bahkan pemberontak. Semua itu butuh kesabaran ekstra agar siswa mampu mengubah kebiasaan negatif menjadi positif yang kelak akan berpengaruh bagi masa depan mereka.
Bagaimana menjadi sosok guru dan pendidik yang hebat itulah yang dibahas Edi Sutarto dalam buku Sekolah Cinta. Buku ini secara lengkap mendedah perbagai persoalan yang dihadapi lembaga-lembaga sekolah mutakhir. Di mana sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat untuk menggembleng karakter siswa menjadi pribadi yang baik dan berakhlak terpuji.
Lalu, pemimpin bagaimana yang dibutuhkan di sebuah lembaga sekolah agar efektif? Edi Sutarto menjelaskan bahwa, pemimpin yang baik adalah yang sosoknya memiliki mindset bahwa kepemimpinan itu bukan kekuasaan, melainkan sebuah tanggung jawab dan pengorbanan. Ia harus bekerja lebih keras dengan cerdas dibanding siapa pun (hlm. 49).
Lebih lanjut Edi Sutarto menjelaskan, ada beberapa sifat pemimpin yang seharusnya menjadi pedoman bagi siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, baik itu pemimpin sekolah (kepala sekolah), atau pemimpin di lembaga atau institusi lainnya.
Pertama, sifat tanah. Seorang pemimpin itu harus belajar pada sifat tanah yang senantiasa memiliki sifat teguh dan kuat. Tidak pernah mengeluh meski dengan beban yang berat. Tanah selalu menerima dengan tulus apa saja yang terhampar pada dirinya, baik sesuatu yang bagus sampai yang buruk.
Sebagai pemimpin juga sebaiknya memahami dan menjalankan sifat api. Yaitu sosok yang bersifat berani dan membakar. Berani membakar kekurangan-kekurangan pada dirinya dan sekaligus memperbaikinya. Api selalu tampil berwibawa dan berani menegakkan kebenaran sesuai hukum dan kebenaran dengan tegas tanpa pandang bulu. Kekuatannya mampu melelehkan apa pun yang keras.
Selain itu, seorang pemimpin juga perlu memahami sifat udara sebagai karakternya. Udara selalu berada di segala tempat tanpa membedakan kerendahan dan ketinggian. Dengan mencontoh udara, seorang pemimpin berada dalam kedekatan dengan anak buah tanpa membeda-bedakan. Keuntungan dari kedekatannya adalah mampu memotivasi langsung di samping tahu benar apa yang menjadi inspirasi anak buahnya (hlm. 52).
Anis Baswedan dalam pengantar buku ini menjelaskan bahwa, mendidik anak-anak untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap belajar sepanjang hayatnya menjadi lebih relevan di era industri saat ini. Kemampuan yang diperlukan untuk berkarya pada abad 21 yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication, tak dapat ditumbuhkan pada diri anak-anak dengan metode-metode pengajaran searah. Dibutuhkan pendidik yang lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator bagi anak dalam mengembangkan berbagai kemampuan dirinya. Menurut lelaki yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, pendidik semacam ini tak hanya melengkapi diri dengan berbagai metode pendidikan terkini, namun juga memiliki rasa cinta, percaya, dan optimisme tak bersyarat pada anak didiknya.
Dalam buku 236 halaman ini, selain membahas tentang seluk beluk bagaimana menjadi pemimpin dan guru hebat, Edi Sutarto juga membahas keteladanan yang pernah dilakukan oleh sosok kepala sekolah bernama Zuhri Wail, yang pernah menjadi Kepala Sekolah Islam Athirah dan sosok guru bernama S. Gegge Mapangewa. Dengan gaya dan pendekatan prosais, Edi menjelaskan sosok-sosok pemimpin yang pantas untuk dijadikan teladan bagi siswa, maupun guru-guru yang notabene sebagai bawahannya. Pemimpin yang penuh dedikasi tinggi dan berusaha menjadi pemimpin yang senantiasa mengayomi. (*)

*) Dimuat Kabar Madura, 19 September 2016

Share:

Menjadi Manusia Berpikir dan Bersyukur


Judul: Tuhan, Maaf, Kami Belum Bersyukur
Penulis: Irja Nasrullah
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Tebal: 216 Halaman


Dalam buku terbarunya Tuhan, Maaf, Kami Belum Bersyukur, Irja Nasrullah mencoba mengetuk hati pembaca untuk memaknai hakikat syukur. Syukur adalah ungkapan “terima kasih” yang biasa dilakukan seorang hamba kepada Tuhan-Nya atas nikmat yang telah diberi. Dalam kitab suci Alquran dijelaskan bahwa, siapa saja yang bersyukur atas nikmat yang Tuhan beri, maka nikmat tersebut akan bertambah.
Irja menjelaskan bahwa, sebenarnya Tuhan tidak memerlukan ungkapan rasa syukur dari manusia, tetapi manusialah yang memerlukannya. Kalaupun manusia mengingkari nikmat yang diberikan-Nya, pengingkaran tersebut tak sedikit pun mengurangi keagungan dan kemuliaan-Nya.
Tetapi, mensyukuri nikmat secara sungguh-sungguh dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari akan membuahkan banyak hal positif, baik dalam tataran individu maupun masyarakat. Berbagai problematika hidup akan terselesaikan dan setiap orang akan mampu berdamai dengan dahsyatnya ujian yang menerjang (hlm. 15).
Ada banyak hal yang perlu dilakukan manusia sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang tak terhingga di dunia. Di antaranya adalah berkontemplasi atau merenungkan fenomena alam dan realitas sehari-hari. Merenungkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, lalu menghubungkannya dengan kekuasaan sang Pencipta.

Berpikir dan Bersyukur
Penulis juga menjelaskan bahwa sebagai makhluk yang diberi akal pikiran, tidak sepantasnya manusia menjadi makhluk yang pesimistis. Mereka harus berjuang untuk menjadi pemenang, bukan pecundang yang mundur sebelum berjuang menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Dalam kondisi paling buruk sekalipun, menurut Irja Nasrullah, seseorang hendaknya tetap bersyukur dan optimistis menjalani hidup. Dalam konteks umum, kondisi tersulit atau kepepet yang dialami manusia justru menjadi batu loncatan yang akan meningkatkan kesuksesan. Ini salah satu bukti bahwa kesabaran adalah hal penting yang harus dimiliki manusia. Jika manusia bersabar dengan cobaan dan rintangan hidup, niscaya mereka akan menuai kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan gemilang sebagai hadiah atas kesabaran yang selama ini tertanam di dalam diri mereka.
Sebagai manusia berpikir, manusia harus mau berusaha dan mengubah masa-masa pahit menjadi hal yang manis. Jangan sampai pikiran kita dihinggapi rasa malas untuk bergerak dan bekerja demi meraih cita-cita. Karena malas untuk bekerja, bahkan merasa tertekan melaksanakannya merupakan racun yang mematikan keinginan untuk hidup maju.
Michael Court pernah berkata, “Keberhasilan pada tingkat apa pun menuntut seseorang untuk bertanggung jawab penuh. Satu-satunya sikap yang menyatukan orang-orang sukses di dunia adalah kekuatan mereka dalam bertanggung jawab penuh.”
Karena itu, bekerja secara profesional adalah salah satu bentuk tanggung jawab, dan tidak akan pernah tercapai selama seseorang tidak memahami secara baik makna dari sebuah pekerjaan. Tidak akan bisa diwujudkan jika seseorang memandang pekerjaan sekadar rutinitas, yang dilakukan sehari-hari, demi mendapatkan gaji dan materi (hlm. 179).
Buku 216 halaman yang sarat dengan nasihat cerdas dan penuh perenungan ini menyegarkan kembali kesadaran kita bahwa mensyukuri nikmat memang tak semudah menikmatinya. Aneka nikmat dan karunia sering kali disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan sewajarnya. Padahal, sekedipan mata, seembusan napas, hingga sedetakan jantung adalah wujud rezeki yang sungguh tak tergantikan nikmatnya. Banyak manusia yang lulus dari cobaan dan kesulitan, tetapi lebih banyak lagi yang gagal dari ujian nikmat dan kesenangan, sehingga mereka lupa untuk bersyukur. (*)

*) Dimuat Majalah New Fatwa, September 2016


Share:

Mengenal Keajaiban Gen Manusia


Judul: Switch
Penulis : Kazuo Murakami
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Februari 2016
Tebal: 220 Halaman

Manusia adalah makhluk yang diberi berbagai keahlian oleh sang Maha Pencipta. Karena itu, dalam kehidupan ini, ada banyak inovasi yang diciptakan manusia dengan berbagai keahlian yang dimilikinya. Dari penemuan lampu bohlam, telepon, mesin fotokopi, internet, dan beberapa inovasi lain yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia itu sendiri. Itu semua merupakan bukti bahwa, manusia memiliki gen positif dari dalam diri mereka. Mereka bisa berkembang sesuai dengan keadaan dan lingkungan di sekitarnya.
Namun, banyak orang meyakini bahwa gen bersifat tetap, tak berubah. Orang-orang pasrah karena merasa tidak beruntung. Mereka menyalahkan gen, kurangnya bakat, atau takdir untuk kegagalan hidup mereka.
Tidak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya gen manusia bersifat dinamis dan dapat berubah asalkan mendapat pengaruh yang tepat. Gen punya switch, saklar untuk membangkitkan potensi positif maupun negatif, tergantung perlakuan manusia kepadanya.
Kazuo Murakami, penulis buku laris The Miracle of the DNA, dalam buku terbarunya, Switch, akan membuka pandangan orang tentang hakikat gen yang ada pada diri manusia. Bahwa gen dapat berubah dengan menekan saklar ON dan OFF. Ada saklar di dalam gen manusia. Pendek kata, gen bukanlah bawaan lahir yang kaku dan seumur hidup tidak akan berubah. Gen memiliki fleksibilitas, pada saat-saat tertentu ia berubah sesuai dengan lingkungan tubuh dan keadaan hati (hlm. 9).
Murakami menjelaskan bahwa, yang berperan mengatur perubahan-perubahan itu adalah saklar gen. Artinya, kehidupan jauh lebih dinamis dan tidak sestatis yang manusia pikirkan. Untuk menjelaskan hal ini, Murakami sering mengangkat bakteri E. Coli sebagai contoh. Bakteri E. Coli normalnya hidup dengan memakan fruktosa. Jadi, meskipuin diberi bahan yang berbeda, seperti laktosa, bakteri itu tak akan bisa mengubahnya menjadi energi. Tetapi, jika tidak diberi bahan lain, terus-menerus hanya memberi laktosa, lama-kelamaan ia bisa mengubah laktosa menjadi energi.
Murakami juga menjelaskan bahwa lingkungan baru melahirkan pola pikir baru. Menurut Lipton, di dalam tubuh manusia, sinyal energi nonmaterial memberi pengaruh pada kondisi tubuh sejuta kali lebih cepat daripada sinyal materiel seperti makanan atau bahan kimia.
Berarti, saat manusia jatuh sakit, hati yang optimistis dan pikiran yang positif akan memberi efek penyembuhan yang lebih baik daripada minum obat. Penataan lingkungan psikologis meningkatkan daya tahan tubuh dan menjadi “obat” yang lebih baik daripada obat-obatan kimiawi.
Yang penting untuk diketahui juga adalah bahwa, gen memiliki kemampuan yang sangat presisi untuk mengubah kinerjanya antara ON (berekspresi) atau OFF (istirahat) kapan pun dibutuhkan.
Secara garis besar kegunaan gen ada dua. Pertama, untuk menyampaikan informasi genetic pada keturunan dan disebut juga kemampuan menggandakan diri. Kedua, untuk menjaga keberlangsungan hidup dengan memproduksi protein.
Fungsi yang pertama ditunjukkan oleh sel-sel dalam tubuh yang terus menggandakan diri dengan menggunakan fungsi fotokopi dari DNA. Tampaknya peranan inilah yang memunculkan kesan bahwa gen itu tetap dan tidak berubah. Tetapi, fungsi gen yang kedua, sebagai pembuat protein, sama sekali tidak konstan. Yang dimaksud dengan gen di sini adalah informasi tentang pembuatan protein, yang merupakan salah satu bagian dari miliaran informasi genetik (genom) yang termuat dalam DNA di inti sel (15).
Selain mengungkap rahasia dan hakikat gen, dalam buku setebal 220 halaman ini, penulis juga menjelaskan tentang hakikat kehidupan dan masalah-masalah yang kerap dihadapi manusia. Bahwa kehidupan adalah perkara yang sarat misteri dan mukjizat. Senyuman dan tawa adalah obat terbaik untuk menggiatkan kehidupan. Ini menjadi bukti bahwa hidup harus dihadapi dengan optimistis.
Melalui buku dan film dokumenter Switch, Profesor Murakami telah menyentuh hati banyak orang Jepang dan membangkitkan semangat mereka setelah bencana dahsyat gempa dan tsunami 2011. Kini, giliran kita menyalakan saklar postif gen untuk mengubah hidup. (*)

*) Dimuat Kabar Madura, Jumat, 23 September 2016

Share:

Cara Cerdas Berkomunikasi di Media Sosial


Judul: Flow di Era Socmed
Penulis: Hernowo Hasim
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 228 Halaman

Dewasa ini, tak dapat dimungkiri bahwa media sosial (medsos) sudah bukan sesuatu yang asing lagi. Di era digital hampir semua lapisan masyarakat mengenal sosmed yang menjadi salah satu media komunikasi efektif bersama keluarga, sahabat, bahkan kekasih. Sehingga jarak bukanlah alasan untuk tidak saling berinteraksi, meskipun hanya lewat internet.
Aktivitas yang dilakukan orang-orang di sosmed sekarang bukan hanya untuk menyampaikan kabar kepada sahabat atau keluarga, tetapi lebih dari itu, sosmed menjadi salah satu media untuk menyampaikan gagasan, perasaan, atau unek-unek yang mengganjal dalam hati dan pikiran. Hal ini bisa dilihat langsung dari cara pengguna sosmed seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sosmed lainnya. Bahkan, lewat sosmed para penghuni dunia digital bisa secara langsung membagikan banyak link yang dianggap penting untuk diketahui banyak orang.
Lewat Flow di Era Socmed, Hernowo Hasim memberikan berbagai tips pada pembaca tentang bagaimana berkomunikasi secara efektif di media sosial. Pembatasan karakter untuk menulis status di sosmed sering kali membuat banyak orang tidak bisa menggunakan bahasa yang efektif, bahkan banyak yang menyampaikan gagasannya dengan cara disingkat-singkat. Sesuatu yang “berbahaya” jika terus menerus dilakukan oleh orang-orang yang ingin belajar menulis dengan baik.
Hernowo menjelaskan bahwa, komunikasi tulis di medsos selama ini cenderung tidak tertata, berantakan, atau menyalahi kaidah. Menurutnya, komunikasi tulis di medsos sesungguhnya hanyalah komunikasi lisan yang “dituliskan” sehingga bentuknya kadang memang tidak beraturan.
Karena itulah penting bagi siapa saja untuk belajar bagaimana menyampaikan gagasan dengan baik dan benar. Agar apa yang disampaikan bisa dibaca dan dipahami. Sangat disayangkan jika sudah banyak menulis di medsos, tetapi tulisan yang ada tak ubahnya sampah yang jangankan dibaca, kadang dilihat saja tidak.
Selama ini, Hernowo dikenal sebagai tokoh literasi yang menggalakkan kegiatan “mengikat makna”, sebuah aktivitas membaca-menulis yang banyak bermanfaat bagi banyak orang. Lewat gerakan mengikat makna tersebut, Hernowo mengajak segenap masyarakat untuk menuliskan apa yang mereka dapat dari bacaan seperti koran, majalah, buku, atau bahkan informasi di televisi.
Hal ini pernah dilakukan sendiri oleh Hernowo. Ia menuliskan apa yang dibaca di buku atau ditonton di televisi, memfotokopi, dan menempelkannya di majalah dinding (madding) kantor tempat ia bekerja. Gerakan ini sampai sekarang dilakukannya sehingga dari tangannya banyak lahir buku-buku laris seperti Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Writing, Quantum Reading, dan buku lainnya yang sampai saat ini mencapai 40 judul.
Hernowo juga menjelaskan bahwa kecakapan berkomunikasi—meski ada yang menggunakan bahasa tubuh—tetap lebih banyak mengacu ke hal-hal nonfisik, yaitu bagaimana seseorang terampil dalam mengolah pikirannya untuk memahami dan menyampaikan pemahamannya itu secara jelas, tertata, dan unik. Dan, untuk mencapai kejelasan, ketertataan, dan keunikan, diperlukan kecakapan berpikir yang tinggi (hlm. 33).
Kecakapan berkomunikasi yang lebih ditekankan di sini adalah, pertama, bagaimana seseorang memiliki kemampuan dan “membuang” (mengungkapkan) pikiran dan gagasannya secara lebih mudah; kedua, bagaimana seseorang dapat menyiapkan dirinya untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa yang jelas, tidak monoton, dan bahasa tersebut mampu mewakili keunikan dirinya; dan, ketiga, bagaimana seseorang dapat memiliki kemampuan memahami secara baik (hlm. 34).
Lewat buku 228 halaman ini, Hernowo memberikan model-model latihan yang berbasis pada empat keterampilan berbahasa—membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Buku ini menarik untuk dipelajari sehingga orang-orang bisa mengendalikan pikirannya agar tidak secara mudah “membuang” unek-unek di medsos, apalagi yang disampaikan berbau SARA dan cenderung provokatif, sehingga membuat orang atau kelompok tersinggung dan cenderung menimbulkan keresahan di masyarakat. (*)

*) Dimuat Harian Bhirawa, Jumat, 23 September 2016

Share:

Friday, 7 October 2016

Trik Menurunkan Tekanan Darah


Judul: 49 Kiat Santai Menstabilkan Tekanan Darah
Penulis : Dr. Yoshihiko Watanabe
Penerbit: Qanita, Bandung
Cetakan: Pertama, Juni 2016
Tebal: 152 Halaman


Menjaga kesehatan adalah hal yang sangat penting dilakukan karena banyaknya aneka penyakit yang mengintai manusia. Gaya hidup yang serbapraktis, terutama dari segi konsumsi makanan, menyebabkan berbagai penyakit sangat mudah menghampiri. Ini masalah serius yang mengancam kehidupan, karena sudah terbukti di sekitar kita, banyak orang yang mengidap berbagai penyakit gaya hidup seperti jantung, stroke, kanker, hingga hipertensi.
Berbicara masalah hipertensi, tentu kita akan kembali pada menu makanan yang kita konsumsi. Terkadang, tanpa sadar kita begitu mudah mengonsumsi makanan yang menyebabkan tekanan darah tinggi.
Yoshihiko Watanabe lewat buku 49 Kiat Santai Menstabilkan Tekanan Darah berbagi tip bagaimana menstabilkan tekanan darah. Penulis menjelaskan bahwa bagi orang yang memiliki masalah hipertensi, menurunkan tekanan darah bukanlah hal yang sulit. Buku ini akan memandu bagaimana kita harus melakukan hal-hal penting yang akan menyebabkan tekanan darah berkurang.
Hipertensi merupakan penyakit gaya hidup yang paling umum. Sekitar 40.000.000 orang, atau 1/3 populasi Jepang, diperkirakan menderita hipertensi. Jumlah penderita meningkat pesat pada usia 50-an. Dari dua orang berusia 50-an, satu di antaranya merupakan penderita hipertensi.
Yang penting untuk diketahui adalah, hipertensi termasuk “silent killer” atau “penyakit diam-diam mematikan”. Penyakit hipertensi sangat ditakuti karena kondisi penderita dapat memburuk tanpa disadari.
Sering kali orang menganggap enteng hal seperti ini tanpa menyadari kemungkinan adanya hal yang lebih berisiko, yaitu komplikasi penyakit lain. Jika tekanan darah terus meninggi, bagian dinding pembuluh darah akan terkelupas dan terbawa aliran darah ke seluruh tubuh. Jika sebagian dinding yang terkelupas tersebut menyumbat pembuluh darah jantung, akan terjadi kerusakan otot jantung atau infark miokard. Sementara itu, jika penyumbatan terjadi di pembuluh darah otak, akan mengakibatkan infark serebral atau kerusakan otak (hlm. 12).
Karena itu, lewat buku ini, penulis yang merupakan spesialis hipertensi ini mengajak masyarakat untuk menjaga pola makan agan terhindar dari penyakit hipertensi. Watanabe memaparkan bahwa, mengurangi konsumsi garam dapat mencegah kenaikan tekanan darah, walaupun mungkin orang akan berpikir, “Makanan kurang garam pasti tidak enak dan menyebalkan? Saya tidak mau!”
Namun, siapa pun sebenarnya bisa mengurangi konsumsi garam dengan baik asalkan tahu triknya. Misal, mengurangi garam dengan cara menyisakan kuah setengahnya dari apa yang kita makan. Karena umumnya, kadar garam mengendap pada kuah dari makanan yang dikonsumsi. Dengan menyisakan seluruh kuahnya, kita dapat mengurangi 5,5 gram garam, dan jika menyisakan setengahnya saja, kita sudah mengurangi 3,5 gram.
Bagi pengidap tekanan darah tinggi, pengurangan 1 gram sama dengan penurunan 1 mmHg. Dengan demikian, mengurangi 5 gram garam akan mengurangi 5 mmHg tekanan darah. Hanya dengan menurunkan tekanan darah seperti itu saja, kita dapat mencegah stroke (hlm. 2).
Trik lain adalah dengan memperbanyak porsi lauk dan sayur-sayuran ketika makan. Yang paling penting adalah jangan sampai kebanyakan makan. Dengan porsi yang besar, tentunya kecepatan makan seseorang akan melambat. Perlu diketahui bahwa saraf pada otak baru mengeluarkan sinyal “kenyang” sekitar 20 menit setelah mulai makan. Jika sebelum itu sudah makan banyak dengan cepat sekaligus, artinya kita kebanyakan makan. Karena itu, sangat penting memikirkan “cara makan dengan perlahan”. Dengan kata lain, kita “memperdaya otak” dengan “strategi makan perlahan”. Trik lain, seperti “menyajikan makanan di piring besar dan memakan “sedikit demi sedikit” atau “memilih daging atau seafood yang bertulang” juga dapat memperlambat waktu makan (hlm. 22).
Selain kiat di atas, ada banyak kiat ampuh lain yang bisa dipraktikkan langsung untuk menstabilkan tekanan darah seperti mengonsumsi segelas teh yang kita sukai setiap hari, memperbanyak konsumsi avokad dan apel untuk kebutuhan kalium, memilih sup yang mengandung rumput laut, dan juga dengan berhenti merokok.
Rahasia dan kiat praktis yang dipaparkan penulis dalam buku 152 halaman ini sangat penting untuk diperhatikan agar kita terhindar dari ancaman berbagai penyakit gaya hidup seperti disebutkan di atas. Penulis meyakinkan banyak orang bahwa menurunkan tekanan darah itu bukanlah hal sulit, jika kita memahami trik-triknya, sehingga kita tidak merasa tertekan dan terpaksa ketika harus mengurangi konsumsi garam, kecap, dan menu lainnya yang menyebabkan tekanan darah naik. (*)

*) Dimuat Koran Sindo, Minggu, 18 September 2016

Share:

Belajar Kearifan Hidup dari Kiai Kampung


Judul: Nyantri Kehidupan dari Kiai Kampung
Penulis : H. Muallif Rosyidi
Penerbit: Metagraf, Solo
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Tebal: 226 Halaman
ISBN: 9786020894270


Ngelmu atau belajar adalah kegiatan yang seharusnya terus dilakukan oleh manusia, karena belajar tak ada batasan tempat dan usia. Berapa pun usia seseorang bukan alasan untuk tidak belajar, karena belajar tidak harus di bangku sekolah atau di dalam ruangan kelas sebagaimana anggapan mayoritas orang. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja. Di rumah, perpustakaan, atau juga bisa di lingkungan sekitar.
Banyak cara orang untuk menambah ilmu pengetahuan dan informasi. Ada yang belajar dari buku-buku bacaan, berita di koran, hingga lewat tayangan televisi. Semua sah-sah saja dilakukan selama itu dalam rangka menambah cakrawala informasi yang setiap saat mengalami perubahan, apalagi di era teknologi dan informasi seperti saat ini.
Selain belajar dari buku-buku, manusia juga bisa belajar dari orang-orang yang bisa menjadi panutan seperti ulama, ustaz, atau tokoh masyarakat yang dianggap bisa dijadikan sumber ilmu dan informasi, terutama tentang berbagai hal menyangkut kehidupan sehari-hari.
Muallif  Rosyidi adalah seorang ustaz yang setiap hari membagikan ilmunya kepada para jemaah melalui dakwah, baik di radio maupun masjid taklim dan dari kampung ke kampung di Solo Raya. Sosoknya yang karismatik membuat banyak orang merasa perlu ngelmu berbagai hal darinya.
Nyantri Kehidupan dari Kiai Kampung adalah buku karya Muallif Rosyidi yang memuat sejumlah pelajaran hidup yang bertalian erat dengan kehidupan sehari-hari. Dari masalah pergaulan, cinta-kasih, sosial-politik, hingga masalah keagamaan seperti Maulid Nabi, tradisi kejawen, atau ritual ibadah Haji.
Muallif Rosyidi menjelaskan bahwa pada zaman dulu, melaksanakan ibadah haji bukan perkara mudah, terutama yang berhubungan dengan transportasi. Dulu, orang naik haji membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak hanya sebulan dua bulan, bahkan terkadang tahunan sebab saat itu menggunakan transportasi laut. Sangat jauh berbeda dengan saat ini, yang lebih canggih dan praktis, cukup beberapa jam sudah sampai di Makkah.
Jika ada kerabat akan naik haji, suasana pamitan (walimatussafar) sangat mengharukan, saling memaafkan, layaknya calon haji tidak akan kembali lagi, saking lamanya proses perjalanan ibadah haji. Malah sering terdengar cerita dari mulut ke mulut, jika ada yang wafat di kapal, akan dilempar ke laut setelah dikalungi beberapa batang besi.
Kadang terjadi rombongan yang berangkat dengan kapal karena badai dan ombak harus menunda perjalanan. Mereka harus mampir dan singgah dulu di setiap pelabuhan. Selama menunggu itu, mereka gunakan untuk mengaji dan belajar agama dengan syekh, ahli agama, serta rutin mengikuti kajian-kajian, yang diadakan di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Dari informasi yang dituturkan Muallif Rosiyidi begitu jelas betapa susahnya pada zaman dulu untuk menjadi tamu Allah, beribadah haji yang merupakan rukun Islam kelima, yang wajib dilakukan bagi umat Islam yang mampu, baik secara mental maupun finansial. Sebuah usaha yang layak untuk diteladani karena dalam pelaksanaan haji, ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik (hlm. 204).
Penulis juga menjelaskan tentang apa yang masih tersisa dari budaya sekaten. Sekaten adalah salah satu metode dakwah yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan agama Islam pada abad 15-an di Nusantara ini, terutama Jawa. Dengan bijaksananya, budaya lokal dimanfaatkan untuk sarana dakwah sehingga ketika momentum Maulid Nabi, 12 Rabiul Awwal, digelarlah kegiatan syiar di kompleks Masjid Demak, saat itu kerajaan dipegang oleh Sultan Raden Fattah.
Para wali menabuh gamelan—yang saat itu menjadi kegemaran rakyat—dengan bertalu-talu di kompleks halaman masjid. Sontak masyarakat berkerumun dan berkumpul untuk menikmatinya. Bagi orang-orang yang belum bertauhid dan masih dengan keyakinan lamanya, jika ingin masuk kompleks masjid, mereka harus membeli “karcis” berupa kalimat syahadat atau syahadatain (dua kalimat syahadat). Akhirnya, kalimat syahadatain ini dengan logat Jawa menjadi “sekaten” (hlm. 41).
Pelbagai permasalahan hidup yang begitu kompleks di zaman ini membutuhkan solusi agar segala masalah bisa terpecahkan. Dan, lewat buku 226 halaman ini, Muallif Rosyidi mengajak pembaca merenungi pelbagai makna kehidupan sehari-hari. Sebuah upaya yang menarik untuk dipelajari sehingga masyarakat bisa ngelmu dan menambah informasi yang tidak bisa didapat dari lembaga-lembaga formal seperti sekolah atau kampus perguruan tinggi. (*)

 *) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya
**) Dimuat Koran Jakarta, Senin, 26 September 2016



Share:

Kunjungan

About Me

My Photo

Blogger dan penulis lepas. Sejumlah karyanya pernah dimuat harian Detik, Kompas, Koran Sindo, Koran Tempo, Jawa Pos, Koran Jakarta, Bisnis Indonesia, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Jateng Pos, Riau Pos, Harian Analisa, Majalah HAI, STORY, ANNIDA, dan sejumlah media cetak lokal dan nasional lainnya.

Popular Posts

Followers

Acer Blog Competition

Acer Blog Competition
Acer Z320

Pages

Theme Support

Contact Us

Name

Email *

Message *